Lika-Liku Kehidupan Seorang Pelajar

 

Lika-Liku Kehidupan Seorang Pelajar

Karya  : Aloysia Alfa Vivianingtyas/ XII IPS 2/02

SMA Virgo Fidelis Bawen

 

Hai namaku Aloysia Alfa Vivianingtyas dan sering di panggil Vivi aku lahir di Ambarawa, Kabupaten Semarang pada tangga 13 Februari 2003 aku dilahirkan oleh seorang ibu yang hebat. Aku terlahir menjadi anak kecil yang sangat bisa di bilang bandel, tidak bisa diam, dan cerewet. Cerita ini berawal pada saat aku berumur 5 tahun tepat dimana aku mulai masuk di bangku TK. Aku bersekolah di TK Virgo Maria 1 Ambarawa pada saat itu, aku bersekolah di sana sekolah tersebut dengan rumahku berjarak dekat. Ketika aku masih bersekolah di TK aku merupakan anak yang sangat cengeng. Setiap kali aku di atar untuk berangkat ke sekolah aku selalu menangis meminta pulang dan tidak ingin bersekolah. Aku pernah melempar kursi kepada guruku yang saat itu memaksaku berangkat ke sekolah. Ketika TK aku memiliki tidak banyak teman, temanku hanya sedikit itu saja mereka terpaksa berteman denganku. Ketika aku masih berada di TK B ada suat kejadian yang menipa diriku. Sesudah pembelajaran ketika aku akan beristirahat untuk makan siang aku dan teman-temanku berlarian menuju ke tempat cuci tangan. Ketika aku sedang berlari aku tersandung dan terjatuh dengan luka yang lumayan parah dan banyak darah. Aku menangis lalu aku di bawa ke aula oleh seorang guru muda yang ketika itu sedang PKL di sekolahanku. Kemudian aku di obati dan di peluk oleh guru tersebut. Ketika aku TK ada seseorang laki-laki yang aku kagumi bernama Endro tapi aku berpikir aku masih kecil dn tidak mungkin berpacaran, akhirnya aku hanya menjadi teman dekat karena orang tua kita pun dekat juga. Suatu saat ketika aku pulang sekolah aku bermain bersama saudaraku bernama Sekar kami bermain polisi dan maling aku menjadi maling pada saat itu, kakiku di ikat dan tanganku di ikat oleh Sekar aku nekat berjalan ketika itu dan tersandung kemudian terjatuh. Mulutku bengkak saat itu dan aku menangis kemudian aku tidak mau bermain polisi dan maling lagi setelah kejadian itu.  Ketika aku lulus dari TK tersebut diadakanlah kegiatan Warsana Warsa aku sendiri di tunjuk oleh guruku bernama Bu Tri untuk menari dan menjadi perwakilan penyerahan bunga untuk para guru dan karyawan. Ketika hari-H pelaksanaan aku tidak tau kalau penyerahan bunga tersebut dilakukan setelah aku menari aku menangis karena pada saat itu aku masih menggunakan kostum menari, padahal aku harus mengganti pakaian dan aku sudah kehabisan waktu. Aku menangis ketika maju ke atas panggung untuk menyerahkan bunga, bukan karena terharu akan berpisah melainkan menangis karena aku kehabisan waktu. Ibuku berkata “ Sudah tidak apa-apa” aku hanya terdiam dan masa-masa TK ku sudah selesai.

 

Tahun 2009 aku masuk SD di SD Virgo Maria 1 Ambarawa, banyak teman-temanku yang masuk ke SD yang sama denganku tapi tidak dengan sahabatku ketika TK. Ketika aku kelas 2 SD ada temanku bernama Lulu yang sangat suka mencontek ketika ulangan. Pada saat ada ulangan matematika kebetulan aku duduk berseblahan dengan dia. Ketika ulangan di mulai dia mengeluarkan kalkulator dari tasnya aku yang saat itu melihat dia hendak memberi tau guruku tetapi dia berkata “ Jangan bilangin ke Guru lho Vi” aku hanya mengangguk namun tidak semudah itu di bodohi olehnya. Aku maju kedepan kemudian memberi tau guruku tentang hal yang di perbuat. Kemudian guruku memarahinya dan diapun menangis. Hal yang sama terjadi berulang-ulang ketika ulangan dan dia selalu ketahuan. Menginjak kelas 4 aku sering sekali di bully oleh teman-temanku. Hingga suatu ketika pada saat aku kelas 5 ada kejadian aku di bully oleh semua teman-teman laki-lakiku di kelas. Aku berada di depan UKS sambil menangis keras namun tidak ada yang menolongku mereka semua meneriakiku, menendangku dan  membentakku, parahnya semua guru yang berada di ruang guru yang letaknya tepat di belakang UKS malah meneriaki menyuruh aku tidak menangis dengan nada yang membentak. Guru tersebut bukanya menolongku malah memarahiku. Aku tidak tau persis kesalahan apa yang aku buat hingga teman-temanku bertindak seperti itu, tidak ada satupun teman perempuanku yang menoongku mereka hanya menonton sambil mengejekku juga.

 

Akhirnya aku naik ke kelas 6 masih dengan kelas yang sama dengan kelas 5 tapi aku memiliki 2 sahabat yaitu Anne dan Tasya. Namun tidak seindah persahabatan pada umumnya aku dan Anne hanya di perlakukan sesuai kondisi hati Tasya. Ketika Tasya sedang ingin bermain denganku kami memungsuhi Anne begitupun sebaliknya. Suatu ketika kelas kami sedang olah raga di Gua Maria Kerep awalnya nampak baik-baik saja antara kami bertiga, hingga entah mengapa aku di jahui oleh mereka berdua dan aku kembali ke sekolah berjalan kaki sendiri sembari menangis di jalan. Sesampainya di sekolah aku menghampiri mereka berdua lalu Tasya dengan tidak memiliki rasa berdosa berkata “ Kamu kenapa to? Tadi aku di tanya bapak bapak katanya kamu nangis kan malah di kira aku ninggalin kamu.” Aku hanya  berpikir sepertinya dia yang meninggalkan aku tapi dia justru marah padaku. Hari-hari ku jalani dengan ikhlas kemudian aku lulus dari SD dan berpisah dengan sahabatku Tasya karena dia bersekolah di Jakarta sedangkan aku dan Anne bersekolah di SMP Pangudi Luhur Ambarawa.

 

Aku sangat senang bisa masuk SMP impianku, hari pertama masuk aku langsung bertemu dengan Dida aku kenal dengan dia ketika ada acara sekolah minggu di rumah dan ketika itu Pembina sekolah mingguku mengenalkan ku pada dia yang kemudian aku menjadi satu sekolahan dengannya. Aku senang karena aku dan dia menjadi satu kelompok MPLS dengannya. Akhirnya aku dan Dida bersahabat, dia sering menginap di rumah Pembina sekolah mingguku yang bertetangga denganku. Ketika dia menginap kami selalu bermain bersama, jalan jalan bersama, makan bersama dan semua kami lakukan bersama-sama. Ketika aku kelas 7 aku menyukai salah satu kakak kelas yang bernama Tri dan Dida menyukai Angger teman dari Tri. Namun aku hanya sebatas menyukai dan tidak berharap lebih pada kakak kelasku tersebut. Pada 2016 bulan Juli aku naik ke kelas 8 dan terjadi pengacakan kelas. Aku belum memiliki teman saat itu dan aku berpisah kelas dengan temanku Dida. Aku akhirnya berusaha beradaptasi dengan kelas baruku meskipun kalau jam istirahat aku datang ke kelas sebelah untuk menghampiri Dida. Semakin lama Dida mulai memiliki teman baru di kelas namanya Yessi. Sejak awal aku sudah merasa tidak cocok dengan Yessi namun aku tetap berusaha berteman dengannya. Akhirnya aku mulai mendapatkan teman yaitu Fara, Dita, dan Asti aku perlahan mulai menghindar dari Dida dan Yessi namun masih berhubungan baik satu sama lain.

 

Saat kelas 8 semester 2 aku di dekati oleh kakak kelas yang erupakan mantan pacar dari temanku Dida aku merasa tidak enak hati dengannya namun dia sudah tidak berurusan dengan mantannya tersebut. Aku tidak lama dekat dengan salah satu kakak kelasku tersebut yang kemudian dia mendekati teman satu kelasku yaitu Osha. “Eh kamu pernah di deketin si itu kan? Tanya Osha. “Hehehe iya pernah kenapa ? kamu di deketin juga ? jawabku. Sejak saat itu Osha sering bercerita kepadaku tentang kakak kelas itu kita saling bercerita tentang pengalaman kita dengan kakak kelas tersebut. Kemudian aku dan Osha menjadi teman dekat sampai saat ini. Ada suatu kejadian dimana aku, Osha, dan 2 kakak kelas laki laki datang ke stasiun Ambarawa tetapi tidak melewati pintu masuk melainkan melewati pintu belakang yang waktu itu tidak ada penjagnya. Kami berempat berhasil lolos dan kami jalan-jalan tanpa di ketahui bahwa kami masuk dengan tidak membayar. Kami pun akhirnya pulang tanpa rasa berdosa. Akhir akhir semester di kelas 8 aku lupa apa yang membuat aku, Fara, dan Osha akirnya bersahabat.

 

Akhirnya aku naik ke kelas 9 aku kembali di kelasku sewaktu aku kelas 7 dan berpisah kelas dengan Osha dan Fara namun kelas kami berdekatan. Setiap istirahat kami selalu bertiga. Pada saat aku kelas 9 aku mendapat guru Bahasa Inggris yang galak. Setiap kali aku atau teman-temanku menerjemahkan sebuah teks di depan, jika tidak bisa kami akan di marahin. “Kamu ini semalem belajar ga ? kamu ini tololl !” kata guru tersebut. kata kata seperti itulah yang membuat aku dan teman-temanku merasa sakit hati dan tidak nyaman saat pelajaran dengan guru tersebut. Aku menjalani hari-hari dengan biasa saja sambil mempersiapkan Ujian Nasional. Sampai akhirnya ketika Ujian Nasional karena nomor absenku yang awal aku di gabungkan dengan kelas sebelah yang mayoritas anak-anaknya sangat pintar, tapi aku senang karena temanku Osha ada di kelas tersebut dan berseblahan denganku ketika Ujian Nasional. Sebelum aku sibuk menyiapkan Ujian Nasional aku mendaftar SMA di Sedes Bedono namun aku tidak di terima. Kemudian aku mengikuti jalur tes dan tidak di terima. Pada saat pengumuman aku menangis dui dalam kamar tanpa sepengetahuan orang tuaku.

 

Ujian Nasional telah berlalu dan pada hari sabtu aku lupa tanggal berapa aku di minta sekolahan untuk datang ke sekolah untuk pengumuman kelulusan. Setelah kami di nyatakan lulus 100% dan setelah aku mengetahiu nilai ujianku yang tadinya aku ingin masuk ke SMA Negri 1 Ambarawa akhirnya mengurungkan niat karena tidak yakin bisa beradaptasi di sekolahan negri. Sesampainya di rumah aku berkata pada ibuku “ Bu aku mau masuk ke SMA Virgo Fidelis saja tidak jadi negri” Ibuku hanya menangguk dan berkata “Yaa besok ke Virgo untuk mendaftar.” Setelah itu aku melakukan Warsana Warsa dan masa-masa SMP ku pun berakhir.

 

Tahun 2018 aku resmi menjadi anak SMA aku mengawali masa SMA ku dengan mengikuti MPLS. Di SMA aku dapat dengan mudah mendapatkan teman dan mudah sekali beradaptasi. Aku di tempatkan di kelas 10 IPS 2 dari hasil Pisikotes ku sebenarnya aku ingin masuk IPA namun melihat kemampuan otakku yang pas-pasan aku pun memutuskan untuk masuk di IPS. Ketika aku berada di kelas sementara aku sudah memiliki teman yaitu Nawang, dan 2 orang lagi. Aku sejak awal sudah merasa tidak nyaman berteman dengan mereka karena beda pendapat dan pikiran. Setekah penentuan kelas tetap aku berpisah dengan mereka temanku yang satu berada di IPS 1 sedangkan dua orang lagi berada di kelas IPS yang beda denganku. Aku akhirnya memutuskan untuk mencari teman lagi di kelas tetapku dan aku menemukan ada Manda, Kezia, dan Dinda. Aku lebih nyaman berteman dengan mereka. Ketika aku berada di kelas 10 di adakan pendaftaran pengurus OSIS dan aku pun mengikuti seleksinya. Puji Tuhan aku keterima dan menjadi bagian dari pengurus OSIS. Ketika itu aku banyak di dekati oleh kakak kelas ada yang aku tanggapi ada pula yang tidak. Dan semenjak itulah aku mendapat masalah dengan temanku Anne hanya karena 1 orang laki-laki. Akhirnya aku sudah mulai beradamai dengan Anne dan kembali menjadi teman. Akupun sudah tidak dengan laki-laki penimbul masalah ini. Pada bulan Oktober aku mendapat sebuah pesan dari DM Instagram dari seorang kakk kelas aku hanya berpikir mugkin hanya iseng dan tidak akan terjadi sesuatu. Bulan pun berganti, bulan November aku mendapat pesan kembali dari orang yang sama pada bulan Oktober. Pesan itu berlanjut kemudian orang tersebut meminta untuk beralih ke WhatsApp. Aku panggil orang itu Yohanes.

 

Awalnya aku berpikir mungkin dia hanya ingin kenal denganku, namun semakin lama aku merasa nyaman dengannya. Kita tidak saling tegur sapa ketika di sekolahan, bisa di bilang hanya saling memandang dari jauh. Tiap hari tiap malam aku chattingan atau teleponan dengan Yohanes. Pada saat hari kasih sayang atau Valentine aku memberinya sebuah surat karena tuntutan OSIS lebih tepatnya. Ketika pulang sekolah aku tidak langsung pulang ketika itu,aku menunggu hujan reda karena saat itu hujan sangat deras. Yohanes muncul tiba-tiba di hadapanku, “Mana suratnya ?” tanya Yohanes. Aku bingung sambil menjawab “ Kan udah tadi.” Yohanes pun menanggapi dengan senyuman dan berkata “Itu kan dari celepuk bukan kamu”, aku yang kesal hanya memasangkan wajah kesalku. Celepuk adalah nama panggilan yang Yohanes berikan kepadaku. Tidak lama dia mengeluarkan sebatang coklat dari tasnya dan memberikannya padaku. “Makasih.” Jawabku singkat, kemudian dia pamit untuk pulang ke asrama. Aku sangat sennag ketika itu meskipun hanya dengan hal-hal sederhana namun membuat kenangan manis di masa SMA ku. Pada bulan April sesudah aku melakukan koor di GMKA dalam rangka Minggu Palma Yohanes pulang ke rumahnya yang berada di Jakarta. Kami tidak bertemu berminggu-minggu. Sampai akhirnya dia datang untuk melakukan perpisahan dan warsana warsa. Aku merasa sangat kehilangan karena setelah itu aku akan jarang bertemu. Yohanes juga berkuliah di Jogja yang akan membuatku jarang bertemu. Aku menjalani kehidupanku tanpa Yohanes sampai akhirnya sekolahan mengadakan kemah bakti untuk kelas 10. Tidak ku sangka ketika kemah bakti Yohanes datang dan aku sangat senang karena bisa melihatnya lagi setelah beberapa bulan tidak bertemu.

 

 Setelah kegiatan kemah bakti aku naik ke kelas 11 dengan nilai yang bisa di bilang tidak memuaskan. Kelas 11 kelas kami di acak kembali dan aku berada di kelas 11 IPS 2. Lagi-lagi IPS 2 namun aku senang. Aku bertemu dengan wali kelas yang sangat menyenangkan dan bisa di bilang santai dalam menjadi wali kami. Aku mendapat wali kelas Pak Santosa atau sering di panggil Pak San-San. Awalnya aku tidak tau kalau aku akan di tempatkan di kelas 11 IPS 2 karena aku sibuk mengurusi MPLS untuk adik kelas ketika itu. Aku menjalani kelas 11 ku dengan baik baik saja. Ketika itu ada reorganisasi OSIS dan aku mencoba mendaftar kembali dan aku keterima lagi. Aku senang karena bisa menjabat sebagai pengurus OSIS selama 2 periode dan mendapatkan sertifikat yang bisa menmbantuku untuk mendaftar ke perguruan tinggi. Aku menjalani LDK di sekolah dan sangat menyenangkan.

 

Bulan Januari aku bertemu kembali dengan Yohanes setelah lama sekali tidak bertemu namun pertemuan kami hanya singkat namun berkesan. Tidak terasa sebentar lagi aku akan study tour ke Bali. Namun selang beberapa minggu terjadi sebuah pandemic yang sangat besar yaitu COVID-19. Sekolah ku di liburkan selama 2 minggu namun pandemic masih berlanjut terus sampai akhirnya study tour kami di undur dan kami harus beajar di rumah selama berbulan-bulan. Aku juga harus menyesuaikan diri dengan peraturan yang baru berkaitan dnegan virus Corona ini, aku harus menggunakan masker, lebih sering mencuci tangan, bahkan harus berjaga jarak satu dengan yang lain. Aku bahkan menjalankan ujian kenaikan kelas di rumah atau secara online. “Ada untungnya sii PAS di rumah, kan aku bisa buka buku atau internet.” Ucapku dalam hati ketika mendengar bahwa PTS akan di laksanakan secara online. Awalnya aku sangat senang ketika mengetahui akan belajar di rumah dalam waktu yang lama, namun itu semua berbanding terbalik aku tidak merasakan kesenangan.

 

Akhirnya aku naik ke kelas 12 dan kelasku masih sama dengan kelas 11 karena tidak ada pengacakan kelas dan hanya wali kelas saja yang ganti. Aku merasa tertekan ketika harus melaksanakan kelas online saat kelas 12. Banyak materi yang tidak bisa aku pahami. Akhirnya sekolah memutuskan untuk memasukkan muridnya namun hanya sebagian dan diadakan secara berkala. Aku merasa lebih baik tapi tidak begitu baik. Aku melaksanakan PTS di kelas 12 ini secara online hanya saja aku dan teman teman harus datang ke sekolahan untuk mengerjakan di sekolahan. Gara-gara corona ini pula yang awalnya aku akan pergik ke Jogja untuk main dan mengunjungi seseorang menjadi batal. Namun di sisi lain aku juga bersyukur masih di beri kesehatan.

Komentar

  1. Cerita sudah bagus akan lebih bagus jika ditambahkan gaya bahasa/majas.

    BalasHapus

Posting Komentar